Dinilai Arogan, Warga Desa Menolak Ardin Aktif Kembali

INDONESIASATU.CO.ID:

 BUTON TENGAH - Kepala Desa Tolandona Matanaeo non aktif Ardin mendapat penolakan keras dari warga saat memaksakan diri berkantor kembali sebagai Kepala Desa, warga menilai Ardin sangat arogan saat masih menjabat sebagai Kepala Desa Tolandona Matanaeo.

 Warga Desa Tolandona Matanaeo hingga saat ini tidak menginginkan lagi Desa yang mereka cintai dipimpin oleh Ardin.

 Hal itu dibuktikan puluhan warga saat melakukan aksi penolakan keras terhadap Ardin didepan Kantor Desa Tolandona Matanaeo beberapa waktu lalu.

 "Pada intinya masyarakat ini kan sudah tidak suka dengan pak Ardin, apapun bentuknya, apakah pihak Pemerintah daerah itu masih mau kembalikan dia sebagai Kepala Desa tapi masyarakat sudah tidak suka dengan dia," ungkap Umar salah satu tokoh pemuda Desa Tolandona Matanaeo, Jumat (01/12).

 "Alasan kami yang pertama itu sifat arogansinya, kemudian temperamennya, kemudian ditambah lagi ada beberapa masyarakat yang datang kerumahnya beliau untuk meminta tanda tangan tentang dokumen di Desa malah diusir, sehingga masyarakat sudah nyatakan sikap untuk menolak saudara Ardin menjadi Kepala Desa," tambahnya.

 Lanjut, ia menyebutkan bahwa Ardin juga pernah berkata kasar disaat ada warga yang hendak minta tanda tangan Kepala Desa.

 "Bahkan sampai keluar bahasa kasar, haram katanya kau injak rumahku, pernah juga ada masyarakat lainnya yang datang mau minta tanda tangannya malah dia kata-katai, katanya lebih mahal harganya roti dari pada tanda tanganku ini," tuturnya.

 Masyarakat Desa Tolandona sangat berharap agar pihak Pemerintah daerah berdialog meminta tanggapan dan alasannya warga menolak keras kehadiran Ardin untuk memimpin kembali Desa Tolandona Matanaeo.

 "Kami harapkan kepada pihak Pemerintah daerah, harusnya berdialog juga dengan masyarakat, apa yang menjadi keluarannya masyarakat hari ini, artinya jangan sepihak," harapnya.

 Tak hanya itu, warga juga menilai Ardin saat ini sudah kebal hukum, sebab walaupun Ardin pernah menganiaya seorang anak dibawah umur sebelum Pilkada Buteng yang lalu, namun hingga saat ini Ardin tetap bebas berkeliaran.

 "Pak Ardin juga itu pernah dia aniaya anaknya pak Nurdin yang masih berumur 15 tahun, anak itu namanya Alif, tapi sampai saat ini dia (Ardin, red) tidak diproses secara hukum," ungkap tokoh pemuda yang tidak ingin disebutkan namanya.

 Ditempat terpisah, Kepala Desa Tolandona non aktif Ardin saat ditemui oleh media ini dikediamannya belum lama ini enggan mengomentari aksi penolakan yang dilakukan masyarakat terhadap dirinya.

 "Saya tidak bisa komentari masalah kemarin, di PTUN juga ada penetapan bahwa memerintahkan kepada Pemerintah daerah untuk segera menetapkan saya sebagai Kepala Desa, karena dikabulkan saya punya gugatan, kalau tanggalnya dimasukkan gugatan itu itu saya kurang tau, sudah lupa, bulannya juga sy sudah lupa," kata dia. Ardin sempat menyebutkan bahwa, bukti surat gugatannya di PTUN Kendari sudah ia serahkan ke Bupati Buteng, Kabag Hukum, maupun Dinas Keuangan.

 "Ada saya punya bukti gugatan di pak Bupati, di Kabag Hukum, di Pemerintahan, di Keuangan juga ada, SK Pengembalian kan sudah ditanda tangani oleh Sekda, Asisten I, Kabag Pemerintahan, di Halaman, pokonya semua," pungkasnya. (Lan).

  • Whatsapp

Index Berita